BAB
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah
kumpulan gejala atau sindroma menurunnya system kekebalan yang diperoleh. AIDS
bukan penyakit keturunan tetapi adalah penyakit menular yang menyerang system
kekebalan. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang disebut Human
Immunodeficiency Virus (HIV). Seseorang yang sudah terinfeksi oleh virus
tersebut tidak akan langsung terlihat gejala-gejalanya. Gejala penyakit akan
timbul setelah bertahun-tahun, sementara yang bersangkutan sudah dapat
menularkan HIV kepada orang lain sejak mulai terinfeksi, tetapi dengan cara
yang spesifik.
HIV adalah nama virus penyebab terjadinya AIDS.
Virus ini sebetulnya sangat rapuh dan mudah dimatikan bila berada di luar tubuh
manusia, yaitu dengan memanaskan 56 oC selama 30 menit, atau dengan alcohol
70%, kaporit atau betadin. Tapi sekali saja virus HIV berhasil masuk ke dalam
tubuh atau sel darah putih, maka seumur hidup orang tersebut akan terinfeksi.
Sel darah putih adalah bagian dari system pertahanan
tubuh terhadap penyakit, yang bekerja sedemikian rupa (sangat kompleks)
sehingga dalam kondisi normal kita akan bebas dari sakit karena terbentuknya
zat anti terhadap kuman yang berhasil masuk ke tubuh kita. HIV yang berhasil
masuk dalam tubuh manusia akan menempel pada sel darah putih kemudian
bersembunyi di dalam inti sel dan bersatu dengan DNA yang kemudian akan
berkembang biak lalu menghancurkan sel darah putih.
Realitas menunjukkan AIDS bisa menyerang siapa saja
termasuk orang beragama. Virus HIV tidak pernah menanyakan agama, usia, jenis
kelamin, gaya hidup, maupun preferensi seksual. Melintasi garis-garis batas
sosial, politik, dan ekonomi.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan HIV/AIDS?
1.2.2 Apakah Gejala daari HIV/AIDS?
1.2.3 Bagaimanakah penularan HIV/AIDS?
1.2.4 Bagaimanakah upaya Gereja untuk menghindari
HIV/AIDS?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk
mengetahui yang dimaksud dengan HIV/AIDS?
1.3.2 Untuk
mengetahui Gejala daari HIV/AIDS?
1.3.3 Untuk
mengetahui penularan HIV/AIDS?
1.3.4 Untuk mengetahui upaya Gereja untuk menghindari
HIV/AIDS?
BAB II
PEMBAHASA
2.1 PengertianHIV/AIDS
AIDS merupakan
singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome atau kumpulan gejala atau
sindroma akibat dari kekurangan sistem kekebalan tubuh. Sedangkan HIV adalah
singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, jadi HIV adalah virus yang
menginfeksi manusia dan menyebabkan AIDS. Jadi AIDS merupakan suatu fase dari
infeksi HIV.
2.2 Gejala
HIV/AIDS
Beberapa penderita
menampakkan gejala yang menyerupai Mononukleosis infeksiosa dalam waktu
beberapa minggu setelah terinfeksi. Gejalanya berupa demam, ruam-ruam,
pembengkakan kelenjar getah bening, dan rasa tidak enak badan yang berlangsung
selama 3-14 hari. Sebagian besar gejala akan menghilang, meskipun kelejar getah
bening tetap membesar. Selama beberapa tahun, gejala lainnya tidak muncul.
Tetapi sejumlah besar virus segera akan ditemukan di dalam darah dan cairan
tubuh lainnya, sehingga penderita dapat menularkan penyakitnya.
Dalam waktu beberapa
bulan setelah terinfeksi, penderita dapat mengalami gejala-gejala yang rinngan
secara berulang yang belum benar-benar menunjukkan suatu AIDS. Penderita dapat
menunjukkan gejala-gejala infeksi HIV dalam waktu beberapa tahun sebelum
terjadinya infeksi HIV dalam waktu beberapa tahun sebelum terjadinya infeksi
atau tumor yang khas untuk AIDS. Gejalanya berupa : pembengkakkan kelenjar
getah bening, penurunan berat badan, dan demam yang hilang timbul, perasaan
tidak enak badan, lelah, diare berulang, anemia, thrush (infeksi jamur di
mulut).
Santo Paulus menghimbau
orang beriman untuk menghormati dirinya sebagai Bait Allah. Dengan pernyataan
atau penegasan Santo Paulus tersebut, semakin jelas bahwa diri kita adalah Bait
Allah. Itu berarti, kekacauan yang terjadi di dalam diri kita juga berarti
kekacauan pada Bait Allah. Begitu juga kalau pergaulan bebas yang mengarah pada
seks bebas akan rentan terhadap HIV / AIDS, juga akan merusak Bait Allah.
2.3 Penularan
HIV/AIDS
Penularan HIV terjadi
melalui kontak dengan cairan tubuh yang mengandung sel terinfeksi atau partikel
virus. Yang dimaksud dengan cairan tubuh di sini adalah darah, semen, cairan
vagina, cairan serebrosspinal, dan air susu ibu. Dalam konsentrasi yang lebih
kecil, virus juga terdapat di dalam air mata, air kemih, dan air ludah. HIV
ditularkan melalui cara-cara berikut:
1. Hubungan
seksual dengan penderita, dimana selaput lender mulut, vagina, atau rectum
berhubungan langsung dengan cairan tubuh yang terkontaminasi.
2. Suntikan
atau infuse darah yang terkontaminasi, seperti yang terjadi pada transfuse
darah, pemakaian jarum bersama-sama, atau tidak sengaja tergores oleh jarum
yang terkontaminasi virus HIV.
3. Pemindahan
virus dari ibu yang terinfeksi kepada anaknya sebelum atau selama proses
kelahiran atau melalui ASI. Kemungkinan terinfeksi oleh HIV meningkat jika
kulit atau selaput lendir robek atau rusak, peserti yang dapat terjadi pada
hubunngan seksual yang kasar, baik melalui vagina maupun melalui anus.
4. Penelitian
menunjukkan kemungkinan penularan HIV sangat tinggi pada pasangan seksual yang
menderita herpes, siflis atau penyakit kelamin yang menular lainnya. Yang
mengakibatkan kerusakan pada permukaan kulit.
5. Penularan
HIV juga dapat terjadi pada oral seks (hubungan seksual melalui mulut),
walaupun lebih jarang.
6.
Virus HIV pada
penderita wanita yang sedang hamil dapat ditularkan kepada janinnya pada awal
kehamilan (melalui plasenta) atau pada saat persalinan (melalui jalan lahir).
Anak-anak yang sedang disusui oleh ibu yang terinfeksi HIV juga dapat tertular
melalui ASI dari ibunya.,
2.4 Upaya
Gereja untuk menghindari HIV/AIDS
1. Memberikan
pendidikan nilai/moral bagi orang-orang keluarga dan komunitas-komunitas
melalui prinsip-prinsip adikodrati untuk mencapai kemanusiaan yang utuh dan
penuh.
2. Memberikan
informasi yang baik dan benar tentang narkoba kepada komunitas-komunitas,
orangtua, anak-anak, remaja dan masyarakat.
3. Membantu
orangtua meningkatkan keterampilan untuk membangun kekeluargaan yang takut.
4. Membantu
orangtua melakukan strategi pencegahan penggunaan obat terlarang di rumah
dengan memberikan contoh yang baik dan sehat, menigkatkan peran pengawasan dan
mengajari cara menolak penawaran obat terlarang dari orang lain.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
AIDS merupakan
singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome atau kumpulan gejala atau
sindroma akibat dari kekurangan sistem kekebalan tubuh. Sedangkan HIV adalah
singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, jadi HIV adalah virus yang
menginfeksi manusia dan menyebabkan AIDS. Jadi AIDS merupakan suatu fase dari
infeksi HIV.
Penderita AIDS
seharusnya mendapat perlakuan yang baik dari keluarga dan masyarakat karena
mereka yang terinfeksi sangat memerlukan dukungan dari orang-orang
disekitarnya. Dengan begitu mereka merasa memiliki kehidupan yang sepantasnya
mereka dapatkan dan kita bisa membuat kehidupan mereka jadi lebih berarti.
Agama juga semestinya mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa yang harus
diperangi adalah virusnya bukan orangnya.
3.2
Saran
Saran yang
dapat kami sampai kan adalah sebagai berikut :
1. Lakukan
perawatan jenasah sesuai dtandar protocol.
2. Makalah
ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca
yang membangun sangat kami harapkan demi penyempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
INTERNET
(Diakses pada, Senin, 03Desember 2018, pukul 14.31 WIB)
(Diakses pada, Senin, 03Desember 2018, pukul 14.51 WIB)
(Diakses pada, Senin, 03Desember 2018, pukul 15.10 WIB)
(Diakses pada, Senin, 03Desember 2018, pukul 15.16 WIB)
(Diakses pada,
Senin,
03Desember
2018, pukul 15.41 WIB)
(Diakses pada, Selasa, 04Desember 2018, pukul 21.21 WIB)
(Diakses pada, Selasa, 04Desember 2018, pukul 21.51 WIB)
(Diakses pada, Selasa, 04Desember 2018, pukul 22.01 WIB)
(Diakses pada, Selasa, 04Desember 2018, pukul 22.19 WIB)
(Diakses pada, Selasa, 04Desember 2018, pukul 22.25 WIB)